oleh

Sebelum Tragedi G30S atau G1’Ok

-Artikel-19 views

EDITORNEWS.|| JAKARTA – Sebelum pecah peristiwa G30S (Gerakan 30 September) 1965…., atau Gestok (Gerakan Satu Oktober) kalau istilah Soekarno…; dalam tubuh Angkatan Darat (AD) terdapat empat faksi…:

1️⃣ Kubu Jenderal Nasution;

2️⃣ Kubu Jenderal Yani;

3️⃣ Kubu daripada Jenderal Soeharto; dan

4️⃣ Kelompok perwira binaan Biro Khusus PKI.

Ke empat kelompok itu saling bermusuhan…, secara terang-terangan maupun diam-diam.

Januari 1965…; Letnan Jenderal Yani…, saat itu Menteri Panglima Angkatan Darat (Menpangad) memerintahkan Mayor Jenderal Suprapto…, salah seorang deputinya untuk menangkap Jenderal Nasution…, yang saat itu menjabat Menteri Koordinator Pertahanan dan Keamanan Kepala Staf ABRI (Menko Hankam Kasab).

Menanggapi rencana itu…, seperti dituturkan Brigadir Jenderal Abdul Kadir Besar kepada Salim Said…, dalam “Gestapu 65: PKI, Aidit, Soekarno, dan Soeharto”…, kubu Nasution telah menyiapkan senjata untuk melawan secara fisik…, jika Jenderal Nasution jadi ditangkap atas perintah Jenderal Yani.

Bentrok dua kekuatan ini batal terjadi…, setelah sejumlah jenderal senior ikut melerai.

Rencana penangkapan Jenderal Nasuition oleh Jenderal Yani itu…, bukan peristiwa pertama yang menunjukkan permusuhan kedua kubu tersebut.

Di penghujung 1964…, Jenderal Yani juga pernah menunjukkan permusuhannya kepada Jendral Nasution…, dengan cara menarik pasukan AD yang berjaga di rumah Nasution.

Jenderal Muchlas Rowi…, dalam “Catatan Perjalanan Hidup, Pemikiran, dan Pemahaman M. Muchlas Rowi”…; memberikan kesaksian tentang ketidaksukaan Jenderal Yani kepada Jenderal Nasution.

Jenderal Yani mengatakan kepada Jenderal Rowi…:

“Asal kamu tahu saja…, bahwa saya tidak respek lagi kepada Jenderal Nasution…, karena dia berani menentang perintah Presiden. Saya tidak akan menginjakkan kaki lagi di kantor Menko Hankam.”
.
Jenderal Yani juga menjadi sasaran kritik dan ketidaksukaan para perwira binaan Biro Khusus PKI…., khususnya para perwira yang bertugas di Jawa Tengah.

Banyak perwira yang tidak suka dengan gaya hidup Menpangad yang disebut mewah…, dan jauh dari sederhana di banding mereka yang berada di daerah.

Pada 1956…, Jenderal Nasution yang saat itu sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD)…, berusaha membersihkan AD dari korupsi.

Daripada Kolonel Soeharto…, menjadi salah satu yang diperiksa oleh Inspektorat Jenderal AD dalam rencana bersih-bersih tersebut.

Brigadir Jenderal Sungkono…, orang yang memimpin pemeriksaan keuangan Kodam IV/Diponegoro…, menemukan penyelewengan yang dilakukan daripada Kolonel Soeharto…, selaku panglima Kodam.

Menurut Jenderal Pranoto Reksosamudro…, dalam “Catatan Jenderal Pranoto Reksosamudro”…, daripada Soeharto telah melakukan barter liar gula dengan beras Thailand…, dia juga melakukan monopoli cengkeh dari asosiasi pabrik rokok di Jawa Tengah…, dan penjualan besi tua.
.
Akibat temuan Inspektorat Jenderal AD…, daripada Kolonel Soeharto hampir dipecat Jenderal Nasution.

Karena campur tangan Jenderal Gatot Subroto yang saat itu menjabat sebagai wakil KASAD…; daripada Kolonel Soeharto tak jadi dipecat dari militer.

Daripada Soeharto akhirnya “dibuang” di Sekolah Staf dan Komando Angkatan Darat (SEKOAD)…, di Bandung.

Peristiwa itu membuat faripada Soeharto tak terlalu suka kepada Jenderal Nasution.

Menurut Salim Said…, Jenderal Nasution menyebut daripada Jenderal Soeharto sebagai oportunis sejak jaman revolusi.

Pada saat Yani diangkat menjadi KASAD menggantikan Jenderal Nasution…, daripada Jenderal Soeharto sangat kecewa…, sebab Yani hanya seorang Kolonel…, sedangkan dirinya sudah Brigadir Jenderal.

Seperti ditulis oleh Daud Sinyal dalam “34 Wartawan Istana Bicara Tentang Pak Harto”…, daripada Soeharto mengadukan kekecewaanya itu kepada Jenderal Gatot Subroto.

Saat itu Jenderal Gatot hanya bisa menghibur…, dengan mengatakan…:

“Waktumu akan sampai…, malah akan mencapai kedudukan yang lebih tinggi.”

Salim Said menulis…, bahwa Yani atau orang-orang sekitar Menpangad menilai daripada Soeharto sebagai “jenderal bodoh.”

Mungkin daripada Soeharto tahu…, bahwa dirinya diolok-olok oleh kubu Jenderal Yani…, mengingat jenderal dari Kemusuk itu dikelilingi oleh para prajurit-intelijen cerdas seperti Ali Murtopo…, Sudjono Humardani…, Yoga Sugama…, dan lain-lain.
.
Tidak seperti ketidaksukaan Jenderal Yani kepada Jenderal Nasution…, yang ditunjukkan secara terang-terangan.

Alih-alih menunjukkan ketidaksukaan kepada orang lain…, daripada Jenderal Soeharto justru menyembunyikan ketidaksukaannya kepada Jenderal Nasution maupun kepada Jenderal Yani dengan sangat rapi.

Sejarah kemudian mencatat…, bahwa orang yang hampir dipecat oleh Jenderal Nasution dari dinas ketentaraan…, dan dijuluki sebagai “jenderal bodoh” oleh kubu Jenderal Yani…; ternyata mampu memenangkan perebutan kekuasaan pasca G30S.

Salim Said benar…, bahwa sebelum Gestapu sikap kelompok daripada Soeharto terhadap Soekarno dan PKI memang tak mudah dicium.

Termasuk sikapnya kepada kubu Jenderal Nasution dan Jenderal Yani…, yang tak pernah ditunjukkan warnanya.- ED

Artikel : [Buyung K.W]

Komentar

News Feed