oleh

Psikolog, Prof.DR.Rgu Bambang Harijanto “Keluarga Penting Menjaga Komunikasi dan Memberi Perhatian”

-Berita-1.342 views

EDITORNEWS.ID|| MERANGIN (JAMBI) – Sempat viral dan beredar video dan poto-poto seorang siswi SMA tewas dengan cara gantung diri di sebuah pohon jambu depan Kantor Pusat UKI Toraja, Makale, Rabu 4 November 2020 lalu, sekitar pukul 06.00 Wita.

Dari poto-poto yang beredar, terlihat gadis remaja ini tewas dengan tubuh tergantung
menggunakan dasi SMA yang dikaitkan pada dahan pohon jambu. Gadis yang diketahui berinisial FS yang masih berusia 17 tahun itu diduga nekat mengakhiri hidupnya karena stres baru saja putus dengan pacarnya.

Kasat Reskrim Polres Tana Toraja, AKP John Paerunan menjelaskan, FS nekat mengakhiri hidupnya diduga karena stres. Apalagi dua hari yang lalu, korban baru saja putus dengan pacaranya inisial A.

“Diduga korban stres sehingga memilih gantung diri,” kata John, Kamis 5 November dilansir┬ádari PORTAL JEMBER┬ádari RRI.

Polisi juga telah memeriksa seorang remaja laki-laki berinisial AL (17) mantan pacar yang disebutkan korban dalam suratnya sebelum meninggal.

Ia mengakui pernah menjalin hubungan asmara dengan korban dan baru saja putus dua hari yang lalu

Sebelum mengakhiri hidupnya, korban sempat menuliskan surat yang ditujukan untuk orang tua dan mantan pacarnya.

Dalam surat yang ditinggalkan pada sebuah buku berisi, surat buat mama dan papaku “Saya minta maaf jika saya belum bisa membahagiakan kalian berdua, maafkan saya yang telah membuat kalian kecewa.”

“Sungguh semakin hari aku semakin muak dengan semua masalah dalam hidupku. Ibu, bapak maafkan aku yang telah memilih jalan yang salah.”

“Terima kasih yang sudah menjadi orangtua yang baik dalam hidup aku. Aku sayang sama kalian semua, doakan aku agar aku bisa berjumpa dengan mama papa dan saudaraku kelak nanti, I love you.”

Sementara pada halaman berikut surat ditujukan untuk mantan kekasihnya berisi “Buat Alpin, Terima kasih atas semuanya. Semua yang telah kamu berikan kepada aku. Ini janjiku dulu. Kalau aku akan mencintaimu sampai aku mati.

Dan hubungan ini saya samakan dengan hidup saya. Jika hubungan ini berakhir maka hidupku pun juga berakhir. Demi Tuhan aku berjanji aku tidak akan mengganggu kamu lagi, ini akhir pertemuan kita.”

Diakhir suratnya gadis itu meminta agar pacarnya jangan menangisi kepergiannya. “Berjanjilah jangan tangis kepergianku. Aku mencintaimu. I love you, tolong jika aku dikubur, tolong bawa Emon.

Sangat miris, kejadian ini meninggalkan luka mendalam bagi keluarga. Apapun alasannya pilihan mengakhiri hidup dengan cara bunuh diri tidak dibenarkan.

Prof,DR.Rgu Bambang Hardijanto menjelaskan bahwa semua faktor pemicu tersebut tidak dapat berdiri sendiri dan saling mempengaruhi satu sama lain. Tekanan hidup dan putus cinta hanya memicu stres dan depresi. Gangguan menjadi tidak wajar dan semakin mengkhawatirkan bila terus berkepanjangan dan tidak mendapatkan penanganan yang tepat.

Depresi yang tidak ditangani dengan benar dan komprehensif akan menyebabkan seseorang cenderung melakukan tindakan bunuh diri. Penderita depresi sudah pasti tidak mengetahui cara penyelesaian masalahnya sehingga berpikir bunuh diri adalah salah satu jalan keluar

“Paling banyak kasus bunuh diri, karena kurangnya perhatian dari keluarga, kalau keluarga bisa memberikan perhatian dan bisa memecahkan masalahnya dengan orangtua, disuruh mengaji, pasti tindakan bunuh diri ini tidak akan pernah terjadi,” ujar Prof,DR.Rgu Bambang Harijanto mengakhirk pesan singkatnya.- ED

Jurnalis : [Rio//mrangin]

Komentar

News Feed