oleh

Menguji Nyali Gatot Nurmantyo Sebagai Tokoh KAMI, Apakah Sanggup Membebaskan Syahganda Cs Atau Tidak

-Nasional-15 views

EDITORNEWS.ID|| JAKARTA- Penangkapan sejumlah aktivis yang dilakukan polisi dipandang sekadar terapi kejut bagi para aktivis kritis.

Begitu juga yang terjadi dengan penangkapan Syahganda cs dan para petinggi Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI).

Dikatakan Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW), Neta S Pane, penangkapan Syahganda cs setali tiga uang dengan kasus makar terdahulu.

Artinya, semua itu tak lain hanya sekadar terapi kejut untuk para pengikut KAMI di tengah maraknya aksi demo buruh yang menolak UU Ciptaker yang kontroversial.

IPW melihat, sejak semula rezim Jokowi sudah mengincar pergerakan dan manuver KAMI yang dianggap cenderung menjengkelkan. Berbagai aksi penolakan di berbagai daerah sudah dilakukan tapi aktivis KAMI tetap bandel untuk bermanuver.

“Untuk menangkap mereka tidak ada alasan yang tepat. Sebab jika tiba-tiba menangkap mereka pasti akan ramai ramai dikecam publik,” ujar Neta di Jakarta, Rabu (14/10).

Sehingga, lanjutnya, saat ada momentum aksi demo menolak UU Cipta Kerja, penangkapan petinggi KAMI pun dilakukan.

Penangkapan ini, kata Neta, sama seperti dilakukan rezim Jokowi terhadap Hatta Taliwang cs mapun Eggi Sudjana cs yang dilakukan saat terjadinya aksi demo besar di periode pertama pemerintahan Jokowi. Begitu juga saat ini, penangkapan terhadap Syahganda cs dilakukan saat sedang maraknya aksi demo maupun rencana demo besar.

Neta menganalisis, ada tiga tujuan penangkapan Syahganda cs. Pertama untuk mengalihkan konsentrasi buruh dalam melakukan aksi demo dan menolak UU Cipta Kerja.

Kedua, terapi kejut bagi KAMI dan jaringannya agar tidak melakukan aksi aksi yang ‘menjengkelkan’ rezim Jokowi. Ketiga, menguji nyali Gatot Nurmantyo sebagai tokoh KAMI, apakah dia akan berjuang keras membebaskan Syahganda cs atau tidak.

“Jika dia terus bermanuver, bukan mustahil Gatot juga akan diciduk, sama seperti rezim menciduk purnawirawan saat awal Jokowi berkuasa di periode keduanya sebagai presiden,” papar Neta.

Jika melihat tuduhan yang dikenakan kepada Syahganda cs, tuduhan itu adalah tuduhan ecek-ecek dan sangat lemah serta sangat sulit dibuktikan.

“IPW melihat kasus Syahganda cs ini lebih kental nuansa politisnya. Sasarannya bukan untuk mencegah aksi penolakan terhadap UU Cipta Kerja, tapi lebih kepada manuver untuk menguji nyali Gatot Nurmantyo. Sehingga ujungnya nanti Syahganda cs diperkirakan akan dibebaskan dan kasusnya tidak sampai ke pengadilan seperti empat kasus makar terdahulu,” pungkas Neta.

Polisi sendiri memastikan penangkapan dan penetapan tersangka petinggi KAMI dengan bukti permulaan yang cukup.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi humas Polri, Brigjen Awi Setiyono menjelaskan, salah satu buktinya adalah percakapan di grup WhatsApp, proposal, hingga unggahan di media sosial. Dari sini dugaan penghasutan terlihat.

“Kalau rekan-rekan membaca WA-nya, ngeri. Pantas kalau di lapangan terjadi anarkis, itu mereka masyarakat yang tidak paham betul, gampang tersulut,” ujar Awi di Bareskrim Polri, Jakarta, Selasa (13/10).

Awi merinci, petinggi KAMI yang ditangkap di Medan dan Jakarta tidak tergabung dalam satu grup WhatsApp.

“Bukan tergabung (dalam satu grup WhatsApp). Semua akan di-profiling. Kasus per kasusnya di-profiling,” imbuh Awi.

Namun ia tak merinci kapan percakapan itu dimulai. Hal ini yang tengah didalami penyidik dan sudah masuk dalam materi penyidikan.

“Ini terkait dengan demo UU Cipta Kerja yang berakhir anarkis. Patut diduga mereka (petinggi KAMI) memberikan informasi yang menyesatkan, berbau SARA dan penghasutan,” lanjut Awi.

Pihaknya pun memastikan bahwa pegiat KAMI yang ditangkap telah merencanakan penghasutan hingga terjadi perusakan fasilitas umum dan penyerangan terhadap aparat.

“Mereka memang merencanakan sedemikian rupa untuk membawa ini, membawa itu, melakukan perusakan itu ada, semua terpapar jelas (dalam grup WA),” tutur Awi.

Seperti diketahui, total delapan aktivis dan pentolan KAMI yang ditangkap polisi. Mereka adalah Juliana, Devi, Wahyu Rasari Putri, Khairi Amri, Kingkin Anida, Anton Permana, Syahganda Nainggolan dan Jumhur Hidayat.

Lima orang di antaranya sudah ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Rutan Bareskrim Polri. Mereka diduga melanggar Pasal 45 A ayat 2 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang ITE dan atau Pasal 160 KUHP tentang penghasutan yang ancaman hukumannya mencapai enam tahun penjara.- ED

source : [akuratnews]

Komentar

News Feed