Ekonom Tetap Optimistis dengan Perekonomian Tiongkok

0
3

Editornews.id, Jakarta – Ekonomi Tiongkok telah menunjukkan potensi pertumbuhan yang berkelanjutan setelah adanya pemberian stimulus fiskal dan upaya pengurangan utang di negara itu. Adapun kekhawatiran telah muncul sejalan dengan perang dagang yang terjadi antara Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS).

“Saya pikir Tiongkok masih memiliki peluang yang layak untuk mendapatkan pertumbuhan di atas enam persen tahun ini, yang merupakan target pemerintah. Targetnya adalah 6-6,5 persen,” kata Kepala Ekonom Tiongkok dan kepala Riset Ekonomi Asia UBS Tao Wang, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 11 Mei 2019.

“Pemerintah telah melonggarkan kebijakan dengan lebih banyak dukungan fiskal, dengan pemotongan pajak yang sangat besar, (terhitung) sekitar dua persen dari PDB. Selain itu dengan lebih banyak belanja infrastruktur dalam pipa, termasuk lebih banyak pelonggaran moneter dan sebagainya,” tambahnya.

Baca Juga:  Kerjasama Dagang Indonesia dan Argentina Dilakukan di Tengah Ketidakpastian Perdagangan Global

Pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok tercatat di angka 6,4 persen secara tahun ke tahun (YoY) di kuartal pertama tahun ini atau melampaui perkiraan pasar dan setara dengan kuartal sebelumnya. Tentu kondisi semacam ini diharapkan bisa terus membaik di masa-masa mendatang.

Wang mengatakan bahwa pemulihan ekonomi Tiongkok sejak awal tahun ini terus berlanjut, terutama di sektor industri dan properti, seperti yang ditunjukkan oleh statistik domestik baru-baru ini. Keuntungan perusahaan industri besar Tiongkok melonjak 13,9 persen YoY menjadi sekitar USD88 miliar pada Maret, menurut Biro Statistik Nasional.

Baca Juga:  Seperti Pemilu, Warga yang Tukarkan Uang Baru Harus Celupkan Jari ke Tinta

Peningkatan ini menandai kenaikan kembali yang drastis dibandingkan dengan penurunan 14 persen pada periode Januari-Februari, dan didorong oleh ekspansi produksi dan penjualan. Pinjaman kepada sektor real estat Tiongkok tumbuh pada laju yang lebih lambat pada kuartal pertama, karena pembatasan pembelian pemerintah tetap diberlakukan di kota-kota besar.

Menurut People’s Bank of China harga rumah di 70 kota besar Tiongkok naik secara rata-rata di Maret, dengan harga rumah baru di kota tingkat pertama naik 4,2 persen secara tahun ke tahun. Ia menambahkan pertumbuhan Tiongkok lebih terkait dengan elemen domestik.

“Banyak yang berhubungan dengan sentimen domestik. Sentimen konsumen membaik dan properti membaik,” ucapnya.

Baca Juga:  Freeport Dipastikan Tidak Setor Dividen ke Negara Dalam 2 Tahun

Dia mencatat komposisi kebijakan Pemerintah Tiongkok lebih fokus pada pemotongan pajak dan dukungan untuk sektor swasta, yang memiliki lebih banyak komponen domestik. “Stabilisasi properti dan pemulihan kepercayaan konsumen tidak membantu daya tahan konsumen dan konsumsi barang-barang mewah,” tukas Wang.

Lebih lanjut, Wang mengatakan Tiongkok telah melakukan dengan baik dalam menstabilkan pertumbuhan dan mengelola utang pada saat yang sama, karena risiko yang disebabkan oleh utang sebagian besar menurun akibat upaya pengurangan utang terus menerus selama tiga tahun terakhir.

“Hari ini, risikonya jauh lebih rendah dibandingkan dengan di 2016 karena apa yang telah terjadi di Tiongkok,” pungkasnya.

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here