Di Batu Nisan, Kau Ingin Dikenang Sebagai Apa?

0
1

(Renungan Wafatnya Ibunda)

Terima Kasih Ya Tuhan, Akhirnya Kami Bebas Juga (Free At Last, Free At Last. Thank God Almighty. We are Free At Last).

Opini – Itu kutipan sangat terkenal yang diucapkan Marthin Luther King. Pidatonya, I Have A Dream, dianggap satu dari pidato yang akhirnya ikut mengubah peradaban. Ia ucapkan pidato itu. 28 Agustus 1963, di Lincoln Memorial, Washington DC.

“Saya bermimpi. Akan datang masa, manusia tak lagi dinilai dari warna kulitnya, tapi dari kualitas prilakunya. Saya bermimpi, mimpi yang juga berakar panjang dalam konstitusi Amerika Serikat: Semua manusia diciptakan sederajat.”

Martin Luther King meletakkan monumen persamaan hak kulit hitam. Pidato itu ia akhiri dengan kutipan petuah seorang leluhur negro: Free At Last, Free At Last. Thank God Almighty. We Are Free At Last).

Kutipan itu pula yang tertera di batu nisan Martin Luther King. Hanya saya kalimat akhir, diubah menjadi: Thank God Almighty. I am Free At Last.

Selama 39 tahun masa hidupnya, jika diringkas dalam satu alinea saja, itulah yang paling dikenang. Dan itu tertulis di batu nisan. Itu tertera di kuburan, tempat istirahat yang terakhir.

Apa yang tertulis di batu nisan saya sendiri kelak? Jikapun tak ada yang tertulis di batu nisan, kecuali nama dan tahun hidup serta tahun kematian, tetap ada kesan di batu nisan itu yang menjadi aksen hidup.

Baca Juga:  Dewan Pers Perlu SDM Yang Proaktif, Verifikasi Media Digital

Lama saya terdiam merenung. Satu hari setelah wafat ibunda Bunaya Ali, renungan itu kian mendalam

Mewakili keluarga besar almarhumah ibunda yang tercinta, Bunaya Ali, saya mengucapkan terima kasih banyak kehadiran teman-teman, para sahabat, juga anak -anak yatim, untuk mengaji bersama.

Terima kasih juga atas perhatian, sahabat di pemerintahan. Saya mendapat kiriman bunga, dari Presiden kita pak Jokowi, Pak kapolri Tito Karnavian, Pak Budi Gunawan, Luhut Panjaitan, Pramono Anung, Moeldoko, Hatta Rajasa, Airlangga Hartato, Hari Tanoe, Irjen Pol Bambang Sunar, dan sahabat lain yang tak bisa kami sebut satu persatu

Ibu sudah sakit diabetes sejak belasan tahun lalu.

Selama masa itu, karena ikut merawat ibu, saya pun acap merenung soal kematian. Pada waktunya kematian akan tiba, tak hanya kepada ibu yang sakit, tapi juga kepada kita semua.

Ketika merenung soal kematian, dua hal yang paling membekas.

Pertama, kunjungan ke Forbiden City sekitar 10 tahun lalu. Waktu saya dan keluarga ke Cina, ke Beijing, sempat mampir ke salah satu tempat turisme yang paling banyak dikunjungi. Ialah forbidden city.

Ini area yang cukup luas, 72 hektar. Berdiri di sana bangunan kerajaan dinasti Yuan, disnati Ming dan dinasti Qing. Ini era abad ke 13 sampai 15 di Cina.

Baca Juga:  Renungan Pilpres 2019: Paham Agama Semakin Membelah Kita, What Next?

Area itu dikelilingi tembok setinggi 10 meter, sepanjang area. Inilah asa muasal nama Forbidden City. Ini tempat terlarang dikunjungi. Ia hanya area raja dan keluarga besar, serta siapun yang dikehendaki oleh keluarga raja.

Agen turis kami juga banyak belajar sejarah. Ia bercerita satu kisah para raja.

Ujarnya, setiap kali raja dilantik, yang pertama ia lakukan adalah membangun dulu makamnya. Sang raja membangun dulu tempat nanti ia dikuburkan.

Sebelum raja yang baru memerintah, berhari- hari, ia diminta merenung. Di makamnya nanti, ia ingin dikenang sebagai apa? Apakah raja yang cinta pengetahuan? Yang cinta keadilan? Yang cinta kejayaan? Dsb.

Dari sana, ia susun roadmap pemerintahan. Berbeda harapan, berbeda keinginan dikenang sebagai apa di batu nisan, akan berbeda pula kebijakan utama sang raja.

Lama saya merenung. Tradisi raja di masa itu, justru mulai memerintah dengan merenungkan dulu kematiannya. Ia ingin dikenang sebagai apa? Mempersiapkan makam justru untuk memberi pedoman hidup.

Kedua, soal apa yang kita ingin tertulis di nisan, justru datang dari guru manajemen: Peter Drucker. Ia juga banyak mengajarkan. Jika kita ingin membangun legacy, jejak yang monumental, juga mulai dengan pertanyaan itu: dirimu ingin dikenang sebagai apa?

Baca Juga:  100% Quick Count LSI Denny JA dan 4 Temuan Penting

Ujar Peter Drucker, jika usiamu sudah di atas 50 tahun, tapi masih belum merumuskan dirimu ingin dikenang sebagai apa, kau menyia-nyiakan hidupmu.

Peter Drucker menceritakan juga perjumpaannya dengan ekonom terkenal: Schumpeter. Drucker bertanya kepada schumpeter, ia ingin dikenang sebagai apa jika nanti ia mati.

Schumpeter tertawa. Tapi ia menceritakan perubahan dalam hidup. Dulu, katanya, ketika aku masih muda, aku ingin dikenang sebagai penulis buku ekonomi terbaik yang pernah ada. Itulah tujuan hidupku: dikenang sebagai penulis buku ekonomi yang monumental.

Namun, ujar Schumpeter, usiaku kini sudah 62 tahun. Aku mengubah tujuan hidup. Ada yg lebih penting dibandingkan buku. Yaitu manusia.

Aku lebih ingin dikenang ikut melahirkan para murid, manusia, yang menjadi pemikir ekonomi kelas satu dunia.

Bukan buku, tapi manusia!

Pentingnya kita merenung soal kematian, ingin dikenang sebagi apa, justru untuk membuat hidup kita lebih fokus dan lebih bermakna.

Hari ini, duduk sendiri, selesai sahur di hari ketiga, teringat ibunda yang wafat, kembali renungan itu melintas. Ketika keluarga dekat, para sahabat dan publik luas melihat batu nisan kita, apa yang paling mereka kenang?

Penulis Oleh: Denny JA

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here